November 15, 2013

Kultur Makanan Alami Untuk Ikan Hias

Tingginya angka kematian ikan hias piaraan selain dipengaruhi oleh penyakit, juga ditentukan lancarnya atau tidaknya suplai makanan yang baik dan disukai ikan tersebut. Makanan yang paling cocok untuk ikan hias saat ini adalah makanan alami.makanan alami bisa dikatakan makanan yang diperoleh dari alam, misanlnya diperairan umum,atau mengkulturnya sendiri.
     Makanan alami ini biasanya berupa binatang renik seperti cacing-cacingan, larva serangga, dan udang renik. Ukuran bermacam – macam, sehingga dapat diberikan sesuai ukuran tubuh dan umur ikan tersebut. Masalah yang timbul ketika perternak ikan hias tentu agak sulit untuk mengandalkan makanan alami buruan, terlebih – lebih harus memberinya. sebab, tak selamanya kita memiliki waktu untuk memburunya. Kalau mau member tentu harus punya modal yang disiapkan. Peternak yang mengandalkan makanan alami ini sudah pasti akan mempertipis keuntungannya.
     Nah salah satu cara termudah menyediakan makanan alami yang dikenal ampuh membongsorkan ikan ialah dengan jalan mengkulturnya di sekita kolam ikan tersebut. Cara mudah saja.biayanya pun bolehdibilang ringan. Hanya saja, sebelum kita terjun mengkulturnya ada baiknya kita kenal dulu jenis – jenis makanan alami itu berikut dibaeah ini kelebihannya masing – masing.

Jenis – jenis makanan alami untuk ikan hias
     Dikalangan pembudidaya ikan hias ada beberapa jenis makanan alami berprotein tinggi yang lazim diberikan kepada ikan hias. Di antaranya :

Infusoria
     Infusoria ialah protozoa ( binatang bersel tunggal ) yang  sangat cocok diberikan sebagai makanan ikan hias ukuran kecil ( benih ) setelah kunign telurnya habis. Protozoa ini kebanyakan hidup di air tawar seperti kolam, sawah, rawa, dan perairan tawar tergenang lainnya. Di sawah, infrusoria ditemukan di antara jerami padi setelah selesai panen. Sedang dikolam atau rawa, terdapat di antara tanaman air.
     Dalam kelompok infusoria ini kita kenal antara lain jasad – jasad renik ciliaata yang bersel satu dan berbulu getar di sekujur tubuhnya. Jenis yangpaling seting kita temukan ialah Paramaecium.ciliataini berkembang biak dengan dua cara yang berbeda, yaitu, dengan pembelahan sel dan konjugasi. Cara pembelahan sel dilakukan jika lingkungannya baik, dan merupakan cara perkembanganbiakan yang cepat. Sedangkan cara konjugsi dilakukan sebagai refresing ( penyegaran ) dengan jalan bertukar dan berbaurnya inti sel dari dua sel induk yang berbeda.
     Infusoria ini mampu tumbuh dan berkembang biak dengan cepat di lingkungan yang sedang tercemar dan mengalami proses pembongkaran sisa bahan organik. Makanan mereka berupa bakteri, ganggang renik, ragi, detritus yang halus, dan juga protozoa yang lebih kecil.



Rotifera
     Rotifera ( rotatoria ) adalah sekumpulan jasad renik yang tubuhnya mempunyai korona ( semacam tajuk mahkota ) bulat yang berambut getar. Tajuk ini mirip roda, dan kerena itu pula ia disebut rotifera. Rotifer sendiri sebenarnya merupakan salah satu kelas udang renik dari filum Trochelminthes. Ukurannya antara 50 – 300 mikron.
     Jenis rotifer yang sering ditemukan ialah Brachionus. Tapi Brachionus air tawar berbeda dengan yang ditemukan di air payau dan air laut. Makanan Brachionus terdiri dari genggang renik, ragi, bakteri, dan protozoa yang diperolehnya dengan jalan menggerakkan bulu getar. Getarannya ini menimbulkan arus air menuju ke arahnya.

Kutu air
     Kutu air yang dimaksud di kalangan perikanan bukan kutu, tetapiudang renik Cladocera. Di antara sekian banyak udang renik Cladocera yang terkenal dan sering hadir di kolam dan perairan umum ialah Moina dan Daphnia.
     Bentuk tubuh mereka pipih bening tembus pandang sehingga terlihat “jeroan”nya, termasuk telur – telurnya yang disimpan rapi. Embrionya berkembang terus dalam kantung telur ini hingga setengah dewasa, sampai akhirnya keluar.
     Makanan kutu air barupa ganggang dan detritus. Pengambilan makanan dilakukan dengancara unik, seperti Brachionus. Hanya saja gerakan air ini dilakukan dengan menggunakan kakinya. Nah, andaikata infusaria dalam kolam tidak kita panen, maka ia akan menjadi santapan kutu air.

Cacing sutra
     Cacing juga merupakan makanan alami yang sangat akrab dengan kehidupan ikan hias. Cacing ini hidup diatas perairan yang banyak mengandung bahan organic. Sungai dijakarta banyak membawa sisa pembongkaran juga merupkan lahan yang subur bagi berkembangbiakannya cacing berwarna merah mirip benang ini. Selain di sungai, ia juga banyak ditemukan di dasar selokan yang airnya mengalir perlahan – lahan, misalnya comberan.
     Sepintas lalu cacing yang juga dinamai Tubifex ini mirip benang merah yang kusut, karena merekasuka begerombol. Ujung tubuhnya yang bebas melambai – lambai meliuk – liuk mirip gerakan penari jaipongan. Warna badannya merah darah, meskipun terkadang ada pula yang berwarna bening.
     Sebagai makanan yang nikmat bagi ikan hias, cacing ini terkenal mampu memacu pertumbuhan anak ikan.bagi induk ikan lagi bunting, ia memang kurang cocok, karena dikhawatirkan bisa menghambat keluarnya telur. Sebab kandungan lemak dari cacing itu diduga akan menyumbat saluran telur induk ikan.

Jentik nyamuk
     Satu lagi makanan yang terkenal berprotein tinggi ialah jentik nyamuk. Makanan yang disukai hamper semua jenis ikan tanpa risiko sampingan. Jentik nyamuk yang tak lain dari larva nyamuk itu sebetulnya bukanlah mahluk air asli. Ia berasal dari filum Arthopoda, kelas Insecta, subkelas Pterygota, dari ordo Diptera. Larva nyamuk ini berasal dari nyamuk biasa, artinya nyamuk biasa mengganyang kita di rumah. Jadi buka larva nyamuk Anopheles, Aedes maupun Thelobia, yang ganas itu.
     Jentik nyamuk ini biasanya mudah dan banyak ditemukan di air selokan, comberan, parit, rawa, dan sebagainya. Berbeda dengan tubifex, nyamuk ini justru butuh tempat yang tergenang untuk berkembangbiak. Lebih dari itu,makanannyamuk betina ini pun berbeda dengan nyamuk jantan. Jika nyamuk betina gemar darah manusia, maka si jantan cukup menghisapcairan pada daun. Sedangkan larvanya menyukai detritus, jasad renik seperti ganggang, ragi dan bakteri.
 Larva nyamuk ini bergerak dengan jalan menggerak – gerakan badannya. Ia tidak memiliki alat khusus untuk membantunya berpindah tempat. Mereka mengambil oksigen dari udara dengan alat bernama trachea. Maka tidak heran jika larva ini tahan hidup bergerombol pada tempat yang miskin oksigen,misalnya di lingkungan yang tergenang.
     Jentik nyamuk ini tergolong sangat cocok diberikan bagi induk ikan hias yang telah atau akan kawin, karena selain ukurannya pas, juga kandungan proteinnya tinggi. Bahkan induk yang telah bertelur akan cepat matang telur kembali jika diberi jentik nyamuk.


Cara Mengkultur Makanan Alami nya:

     Berikut ini cara mengkulturjenis-jenis makananalamai tersebut di atas.
Mengkultur infusoria
     Untuk memproduksi infusoria cukup disiapkan wadah dari akurium berbagai ukuran. Kalau ini sulit disediakan karena butuh biaya, misalnya, paso pun bisa. Kalau ini pun tak ada, pinci pun jadilah. Sebagai medium kulturnya gunakanlah daun kobis, selada, talas, atau daun tanaman lain mudah hancur. Tapi sebelumnya buanglah dulu tangkainya karena sulit hancur.
     Daun kemudian kita rebus dengan air dalam panci sampai hancur. Setelah menjadi “bubur” lalu kita masukkan ke dalam wadah tadi dan beri air sedikit sebagai peralut. Lantas kedalam bubur ini kita tulari dengan bibit infusaria. Caranya, masukkan satu atau dua sendok air selokan/comberan yang kondisi airnya agak keruh. Sebab, air semacam inilah yang banyak mengandung bibit infusoria.
      Selanjutnya bubur daun dalam panci yang telah diberi bibit infusaria ini di taruh di tempat teduh tanpa tutup supaya tidak kekurangan usada pernafasan. Biasanya pada hari kedua sudah dapat diharapkan ada infusoria yang tumbuh. Kahadiran infusoria ini ditandai dengan timbulnya lapisan putih keruh dipermukaan air. Cara menanamnya dilakukan dengan mengambil langsung cairan itu dan memberikan langsung kepada benih ikan yang sudah habis kuning telurnya. Jadi makanan ini hanya ideal bagi benih ikan yang masih muda. Kalau ikan sudah besar, bisa diberi makanan lain yang lebih besar.
Kultur rotifera
     Kultur rotifer dapa dilakukan dalam bak atau kolam yang luas. Kolam seluas 10m­­2 mula – mula diberi pupuk kandang ( bisa dibilang kotoran ayam) kering sebanyak 10kg ditambah 0,15kg TSP, dan 0,15kg Urea, di tambah 0,15kg kapur tohor untuk mencegah jangan timbul suasana terlalu asam.
     Sebelum semua bahan itu ditabur, kolam dibersihkan dulu lalu dikeringakan untuk membunuh benih ikan liar dan hama seperti anak kodok, siput dan sebagainya. Pengeringan pada cuaca terik cukup 2-3 hari saja. Jika mendung sebaiknya sampai lima hari z. sedangkan jika digunakan bak, pengeringan cukup sehari z.
     Sebelum kolam kering, pupuk tersebut disebar rata, lalu air dimasukkan setinggi 50cm. jika pengisian air ini sudah mencapai batas yang diingikan, air dihentikan dan pintu pemasukan ditutup rapat. Biasanya bila air yang masuk empat hari, rotifer sudah tumbuh. Untuk menangkapnya dapat dipakai jala plankton, yaitu jala yang bermata jala 40 milimikron.
     Agar rotifer ini tidak dimakan oleh binatang lain dari luar, maka pintu pemasukan air harus diberi saringan. Ini perlu diperhatikan terutama saat kita mengisi air ke dalam kolam yang sudah ditaburi pupuk.

Pembiakkan kutu air
     Membiakkan kutu air tidak jauh beda dengan rotifera. Setelah dilakukan persiapan dan kolam sudah diisi air maka pada hari ketiga benih daphnia boleh dimasukan. Benih daphnia dan moina ini dapat dibeli di toko penjual benih kutu air ( pedagang makanan ikan hias ). Penebaran benih ini perlu, karena air dimasukkan ke dalam kolam atau bak tadi belum tentu membawa bibit kutu air. Penebaran ini biasanya hanya pertama kali saja. Untuk berikutnya, benih ini sudah menyebar ke segala penjuru kolam.
     Pada hari ketujuhsejak pemasukan airnya, kutu air sudah dapat dipanen. Panenan sebaiknya dilakukan pagi hari disaat udara sejuk. Sebab pada suasana seperti ini kutu air akan berkumpul di permukaanair sehingga memudahkan kita menangkapnya. Sedangkan pada siang hari, mereka sudah bersebunyi ke bawah menghindari terik. Panen kutu air ini dapat dilakukan dengan serokan biasa yang terbuat dari kain strimin.
     Baik kultur rotifer maupun kutu air dapat bertahan  dalam waktu yang cukup lama (dua bulan ). Namun setiap minggu sekali harus dilakukan penambahan pupuk kandang yang dimasukkan dalam karung yang dilubangi dan diapungkan dalam kolam.

Membiakkan cacing  sutra
     Cacing sutra juga dibiakkan dalam bak yang bentuknya dibuat agak memanjang atau bisa pula dalam saluran air. Caranya, dasar bak lebih dulu dilapisi dengan lumpur halus. Bahan paling baik untuk melapisi dasar bak ini ialah sampah yang sudah hambir membusuk. Bia menggunakan lumpur, lumpur biasa diambil dari dasar sungai sehingga sudah lengkap dengan bibit cacingnya.
     Tebal lumbur ini cukup 5 cm. bahan tambahan untuk penyubur adalah pupuk kandang sebanyak 50 gr/m2‑. Pupuk ini sebelumnya diaduk dulu dengan lumpur tadi sehingga benar – benar menjadi satu. Lantas ke dalam bak ini dimasukkan air yang dibuat mengalir perlahan – lahan di seluruh permukaan bak tadi. Air ini gunanya untuk mejaga kesegaran atau kesejukan serta menambah oksigen dan membuang sisa kotoran yang merugikan.
     Kemudian bibit cacing tubifex disebar rata. Biasanya bila lingkungan dalam bak ini cocok dengan kemauan cacing merah ini, maka dalam jangka dua hari akan terlihat cacing itu mulai berkembang biak. Guna mencegah sengatan matahari berlebihan – mengingat cacing ini lebih membutuhkan suasana gelap – sebaiknya di atas bak ditutup dengan daun pisang.
     Kalau gerombolan cacing ini di dalam lumpur sudah terlihat cukup banyak panen pun sudah dapat dilakukan. Cara panenya cukup merogoh dan mengangkatnya dengan tangan telanjang. Cacing bersama lumpur yang dipanen itu lalu dibersihkan dengan air. Cara budidaya ini memang tidak bisa menandingi hasil cacing produksi sungai. Tetapi setidaknya kita tidak perlu turun ke kali atau membelinya dari pecari cacing.pencarian cacing inidilaakukan di daerah perkotaan di kali – kali kecil yang airnya mengalir perlahan -lahan.

Membiakkan jentik nyamuk
     Membudidayakan jentik nyamuk berarti mempersiapkan tempat untuk memikat induk nyamuk betina agar mau bertelur. Tempatnya berupa bak berisi air yang ukurannya boleh 2 x 3 m, 2 x 2 m  atau   2 x 1 m. kalau tidak ada bak semen, boleh juga kolam tanah biasa.
     Persiapkan untuk kultur jentik nyamuk ini sama persis dengan pembiakkan kutu air. Diberi pupuk kandang dengan dosis 1kg permeter persegi.campuran lain tidak ada, kecuali kalau bisa kolam alias bak ini dibuat dekat selokan atau coberan karenaditempat seperti itulah banyak berkeliaran nyamuk.
     Dalam tempo tiga hari biasanya nyamuk sudah berdatangan dan hinggap di bak yang kita siapkan. Dan tidak lebih dari seminggu, jentik –jentik yang suka bergoyang itu sudah dapat kita raup. Caranya dengan bantuan serok yang biasa dibuat dari kain strimin. Nah, sebelum diberikan kepada ikan, sebaiknya dicuci dulu sampai bersih.
     Jika dirasakan nyamuk – nyamuk sudah berkurang hasilnya, maka itu pertanda pupuk harus diperbarui lagi. Ada pula yang menambahkan batang/gedebok pisang yang sudah dicacah sebagai pemikat induk nyamuk. Demikianlah dilakukan pembaruan pemupukan berulang – ulang, bila dirasakan hasilnya sudah mulai berkurang.



3 comments:

  1. Untuk pakan burayak ikan umur 3 hari lebih praktis pakai microworm aja. Ane jual dan siap dikirim keseluruh indonesia invite pin 5C6AABCA

    ReplyDelete
  2. kami sedia pakan alami phytopalnkton dan zooplankton sistem kultur per paket.
    yang berminat silakan add FB saya : ugo.takeshimura@ymail.com

    ReplyDelete